Padang Lamun, Hamparan Permata di Ujung Timur Pantura Jawa
(Sebuah catatan perjalanan
pribadi)
Ketika anda sedang melintas di
pesisir pantura Jawa Timur, dimana saja, cobalah tengok ke arah pantai.
Kemudian carilah pantai yang menurut anda paling bersih dan nyaman. Berhentilah
sejenak dan luangkan waktu untuk berjalan-jalan di sepanjang pantai itu. Adakah
hewan laut lucu yang terlihat ketika laut sedang surut?
Paling-paling anda hanya akan
bertemu hewan kerang yang menurut saya biasa saja. Karena memang kerang
tersebut mampu hidup pada kondisi di bawah standar hidup hewan laut lainnya.
Atau mungkin anda terkesima begitu bertemu kerang, lalu membawanya pulang
sebagai hewan peliharaan
Konon, sebagian besar kawasan
pesisir di Utara Jawa Timur mengalami degradasi berat. Pertambahan jumlah
penduduk dan berkurangnya jumlah lahan di darat akibat perluasan industri
memaksa penduduk minggir ke tepi laut. Tak ada darat, laut pun jadi. Penebangan
mangrove mengundang abrasi. Pencemaran di hilir merusak lamun. Bom ikan dan
jaring pukat meluluhlantakkan terumbu karang. Selat Madura seakan menjadi
pertukaran limbah industri di pesisir Utara Jawa Timur dan Selatan Madura.
Kita yang di darat seakan lupa diri.
Tiap hari menggempur sungai-sungai dengan sampah. Penduduk tepi laut terkena
imbas gelontoran sampah. Menumpuk di ujung sungai, mencemari tepi laut. Selat
Madura yang tenang tak lagi nyaman. Ikan-ikan semakin sulit dideteksi. tak ada
habitat, tak ada regenerasi. Penggarap darat memetik, Penggarap laut paceklik.
Lantas kita bertanya : Kemana perginya ikan-ikan?
Cerita perjalanan saya bersama
kawan-kawan, akan mengajak anda sejenak mengunjungi tempat yang lebih dalam.
Jauh dari hiruk pikuk. Suatu tempat dimana ikan-ikan menghabiskan masa mudanya.
Tempat dimana terdapat kearifan penduduk terhadap lingkungan di sekitarnya.
Melakukan semacam 'kunker' di negeri sendiri, tentunya lebih bijak dan
bermanfaat daripada berwisata ke luar negeri :)
Masyarakat menyebutnya Lempuyang,
pantai pasir putih yang unik dan khas berupa teluk dan jarang diketahui orang.
Bagi saya, pantai ini bukan sekedar eksotis dipandang dari estetika pasir putih
dan kelayakannya sebagai tempat wisata. Namun keseimbangan ekosistemnya-lah
yang membuat pantai ini layak disebut sebagai daerah yang lengkap, baik sebagai
pantai maupun sebagai satu kesatuan ekologi pesisir yang eksotis.
Perjalanan menuju Pantai Lempuyang
Jalur pantura yang ditempuh hingga
mentok Panarukan, masih harus ditempuh lagi menuju timur (ke arah Bali) hingga
bertemu dengan Taman Nasional Baluran di sebelah kiri jalan.
Pantai Lempuyang adalah salah satu
kawasan lindung di Taman Nasional Baluran. Sebelum sampai Lempuyang, kami masih
harus menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit menuju pantai Bama yang
terkenal.
Dari Pantai Bama, akhirnya kami
memutuskan menempuh perjalanan melalui laut!? Tenang, Petugas telah menyediakan
kapal boat bagi pengunjung, baik untuk tujuan ekowisata maupun penelitian.
Cukup menunjukkan surat perijinan dan keperluan, petugas siap mengantar.
Keunikan Pesisir Pantai Lempuyang
Keindahan yang ditawarkan pantai
Lempuyang tidak jauh berbeda dengan yang kami saksikan di pantai Bama. Menurut
petugas jagawana, pantai Lempuyang adalah salah satu blok kawasan Taman
Nasional Baluran yang 'sedikit' dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Namun,
kemurnian ekosistemnya tetap terjaga dengan baik berkat kerjasama yang apik
antara petugas Taman Nasional dengan penduduk pemukim.
Berbeda dengan pantai Bama, pantai
Lempuyang terlihat seperti huruf "U". Garis pantainya menjorok ke
dalam (ke darat) / disebut juga teluk. Ketika kita berdiri menghadap laut, maka
di sisi kiri dan kanan terlihat pepohonan mangrove yang menjorok ke laut
sedemikian rupa hingga keseluruhan pantai ini membentuk huruf "U".
Air laut yang masuk ke dalam kepungan mangrove tersebut menjadi seperti
genangan air kolam yang sangat dangkal. Dengan kedangkalan seperti itu kita
bisa saja berjalan-jalan di dalam air sambil melihat ikan-ikan berseliweran
diantara kedua kaki kita.
Keunikan lain terutama terjadi pada
saat air laut sedang surut. Daratan landai yang sebelumnya terendam air pasang
itu kini terlihat dan nampaklah padang lamun yang membentang luas.
Genangan-genangan air pasang terbentuk dimana-mana. Berbagai jenis hewan laut
kecil yang terjebak dalam genangan dan bersembunyi diantara tumbuhan lamun dan
pecahan karang.
Satwa Laut yang Dijumpai Diantara
Tumbuhan Lamun
Hewan-hewan laut yang kami temui
diantaranya adalah Mollusca (kerang-kerangan dan gurita), Crustacea (kepiting
dan udang-udangan), Echinodermata (berbagai macam teripang, bintang laut, bulu
babi, dan landak laut), Pisces (berbagai jenis ikan).
Semakin jauh kami menyusuri padang
lamun ke arah laut hingga dekat tubir (batas terumbu karang), kami semakin
takjub menyaksikan banyak sekali berbagai spesies ikan dan hewan-hewan lucu
lain yang berkeliaran dan bodohnya kami tidak tahu namanya :)
| Ikan Buntal bersembunyi di bawah karang dalam ekosistem lamun |
| Kerumunan ikan kecil yang selalu menjauh sehingga susah untuk diambil gambarnya |
| Hamparan Lamun terlihat jelas ketika air laut surut hingga titik terendah |
Bahkan mungkin di sepanjang pantai
Utara Jawa sekalipun anda jarang menemukan lamun. Saya berkesimpulan
bahwa lamun hanya tumbuh subur di daerah-daerah tertentu saja. Misalnya
daerah dengan dataran landai, arus yang tenang, bebas dari bahan pencemar berat
dan ketersediaan bahan organik yang cukup. Disamping itu, keseimbangan fungsi
ekologis antara terumbu karang dan mangrove harus terjaga dengan baik.
Kearifan
Masyarakat Lempuyang terhadap padang lamun
Di samping keindahan-keindahan alam yang ditawarkan, kami belajar banyak mengenai kearifan penduduk yang tinggal di kawasan ini. Keberadaan penduduk di kawasan Taman Nasional sejatinya dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan ekosistem baik di darat maupun di laut. Akan tetapi, pendidikan konservasi yang digiatkan oleh pihak Taman Nasional kepada penduduk yang ramah ini, sedikit demi sedikit telah mengubah cara pandang mereka terhadap lingkungan.
Penduduk dengan penuh kesadaran telah berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup tiga ekosistem pesisir tersebut. Sebanyak sepuluh Kepala Keluarga yang tinggal disini terikat oleh peraturan antara lain :
1. Tidak menebang mangrove hidup,
2. Tidak membuang sampah plastik sembarangan,
3. Menggunakan pupuk organik untuk menggarap sawah,
4. Tidak membangun bangunan permanen,
5. Tidak menangkap ikan dengan jaring, bom, dan alat perusak lainnya.
Di samping keindahan-keindahan alam yang ditawarkan, kami belajar banyak mengenai kearifan penduduk yang tinggal di kawasan ini. Keberadaan penduduk di kawasan Taman Nasional sejatinya dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan ekosistem baik di darat maupun di laut. Akan tetapi, pendidikan konservasi yang digiatkan oleh pihak Taman Nasional kepada penduduk yang ramah ini, sedikit demi sedikit telah mengubah cara pandang mereka terhadap lingkungan.
Penduduk dengan penuh kesadaran telah berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup tiga ekosistem pesisir tersebut. Sebanyak sepuluh Kepala Keluarga yang tinggal disini terikat oleh peraturan antara lain :
1. Tidak menebang mangrove hidup,
2. Tidak membuang sampah plastik sembarangan,
3. Menggunakan pupuk organik untuk menggarap sawah,
4. Tidak membangun bangunan permanen,
5. Tidak menangkap ikan dengan jaring, bom, dan alat perusak lainnya.
Penduduk yang diizinkan tinggal di
kawasan ini pun hanya terbatas bagi sang pewaris rumah atau pemilik rumah
terdahulu yang memang telah ada sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional. Ketentuan-ketentuan dan penyuluhan rutin oleh pihak Taman Nasional menjadikan penduduk
sebagai salah satu bagian dari ekosistem pesisir yang cukup bersahabat.
Pelajaran apa yang dapat diambil ?
Selama dua hari kami berada di pantai
Lempuyang, tebersit ide bahwa kita memang perlu sesekali melakukan kunjungan ekowisata ke
tempat-tempat eksotis ini agar kita senantiasa bersyukur atas berkah kekayaan
laut negeri kita.
Kini kami menyadari bahwa konservasi Padang Lamun harus
terus dilakukan, yaitu dengan menjadikannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
Taman Nasional itu sendiri yang seyogyanya dikelola bersama-sama dibawah naungan
Kementerian Kehutanan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.
Upaya konservasi padang lamun juga perlu
ditanamkan semenjak dini dari usia Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, baik melalui
teori dalam kelas maupun kegiatan outbond yang mengasyikkan. Namun apabila kegiatan
lapang cukup sulit dilaksanakan karena lokasi yang jauh, maka salah satu hal paling
mudah yang bisa dilakukan untuk lingkungan kita adalah kesadaran untuk membuang
sampah pada tempatnya.
Saya sedikit khawatir apabila suatu saat anda berkunjung ke pantai Lempuyang lalu berjumpa hewan-hewan lucu itu menjadi takjub, lantas membawa pulang mereka sebagai hewan peliharaan :) Hapus niat itu kawan, ingat, anda berada di kawasan Taman Nasional.
Saya sedikit khawatir apabila suatu saat anda berkunjung ke pantai Lempuyang lalu berjumpa hewan-hewan lucu itu menjadi takjub, lantas membawa pulang mereka sebagai hewan peliharaan :) Hapus niat itu kawan, ingat, anda berada di kawasan Taman Nasional.
Biarlah mereka yang hidupnya semakin terdesak oleh keberadaan
dan aktivitas kita diluar sana, menjalani generasi mudanya dengan tenang di Taman Nasional Baluran. Suatu
saat, ketika mereka telah dewasa dan berkelana di perairan Indonesia kita yang
luas, kita akan bertemu kembali dengan mereka. Di restoran seafood barangkali?

Komentar
Posting Komentar